Hidupku dikacaukan oleh sebuah pengalaman yang terjadi pada saat aku masih kecil. Aku seringkali berpikir dan mengingat kembali disaat dimana pengalam tersebut terjadi padaku. Tidak ada seorangpun yang mempercayai kisahku ini, maka kuputuskan untuk menulisnya agar semua orang bisa membaca dan mengetahui apa yang aku alami.
Semua itu terjadi ketika aku berumur sekitar 14 tahun, ketika keluargaku pindah kesebuah rumah baru. Ayahku mendapatkan sebuah pekerjaan baru dimana penghasilannya lebih baik dan satu minggu kemudian, kami menjual rumah kami dan menyewa sebuah apartemen dikota dimana kemudian kami pindah. Kami pindah saat musim panas sehingga hal ini memudahkanku untuk mengurus segala permasalahan mengenai transfer sekolah.
Ketika hari pertama aku masuk sekolah baru, aku merasa sangat gugup berjalan keluar dari gedung apartemen menuju sekolahku yang berjarak cukup dekat. Aku tidak mempunyai waktu untuk berkenalan dengan anak anak lainnya di lingkungan baru ini, sehingga aku tidak mengenal siapapun disini dan sungguh merasa sangat asing dan sendiri. Aku ingat bahwa dipagi itu aku tidak benar benar “bercakap cakap” dengan siapapun. Aku terlalu pemalu dan canggung untuk melakukan hal itu. aku hanya mengambil dan mengamati jadwal, mencoba menyibukkan diri untuk mencari tahu dimana kelas ertamaku berada.
Kulihat dijadwal yang tertera bahwa aku harus berada di kelas matematika di ruangan 104. Aku memeriksa peta sekolah yang telah diberikan kepadaku sebelumnya. Kuperiksa peta tersebut berulangkali, namun aku tidak bisa menemukan nomor kelasku didalamnya. Dan pada saat itu tidak ada staff yang ada disekitar yang bisa kujadikan sebagai sumber informasi. Aku mulai merasa panic. Kemana aku harus pergi?
Aku melihat bahwa dari susunan gedung ini terdapat sebuah bagian di kanan gedung sekolah yang nampaknya terdapat beberapa kelas yang cukup lebar namun tidak diberi nomor. Nomor kelas di bagian kiri terjauh dari sekolah adalah 300-310, sedangkan pada bagian tengahnya nomor nomor yang tertera adalah 200-230. Kupikir bahwa kelasku, 104, pastilah berada dideretan sebelah kanan. Aku kemudian menyusuri koridor, kebanyakan siswa bukanlah siswa baru sepertiku, dan mereka tentu saja sudah masuk ke kelasnya masing masing. Sedangkan aku masih sibuk membolak balik peta yang kubawa. Lorong koridor sudah sangat sepi saat itu. mungkin pada saat itu seharusnya aku mendatangi meja informasi dan bertanya, namun aku terlalu malu untuk melakukannya, dan kuputuskan untuk mencarinya sendiri saja.
Aku kemudian menyusuri dan mengamati tata ruang disekolahan tersebut, dan diujung koridor yang sepi, jalanku terhalang oleh sebuah pintu kayu tua dobel yang tak bisa terbuka ketika aku mendorongnya. Sungguh aneh, kupikir ada yang salah dengan semua ini. sepertinya bagian dari gedung ini tidak ada yang boleh memasukinya. Namun kemudian aku berpikir bahwa ada seseorang yang secara tidak sengaja menutupnya atau mungkin aku kurang kuat mendorongnya saja.
Aku mendorong pintu itu dengan bahuku, dan kemudian diikuti suara berderit, pintu tersebut akhirnya terbuka juga. Aku menyadari bahwa aku telah merusak salah satu engselnya yang memang sudah berkarat dan aus kulihat. Merasa amat khawatir telah merusak pintu dihari pertama masuk sekolah, aku sebenarnya nyaris saja berbalik dan berlari menjauhi tempat itu, dan mungkin memang lebih baik aku bertanya kepada seseorang untuk menunjukan letak kelasku. Sangat jelas bahwa aku sebenarnya tidak boleh berada dibagian dari sekolah dimana aku berada kini. Koridor yang ada didepanku terlihat sangat kumuh dan berdebu. Locker yang ada terlihat terbuka dan tak terpakai. Bau tembok berjamur tercium samar dari tempat ini. tetapi ketika aku hendak berbalik, aku melihat bahwa nomor kelas terdekat yang aku lihat adalah 100.
Agak bingung juga aku melihat hal ini, kemudian aku memeriksa timetableku lagi untuk meyakinkan bahwa aku telah membaca nomor kelasku dengan benar. Dan memang benar, ruanganku bernomor 104. Aku kemudian mulai berjalan pelan menyusuri koridor dan melihat dari jendela masing masing kelas. Diruangan 100 kosong, 101 juga kosong tidak ada satu orangpun yang berada disana. 102 kosong juga, hanya terdapat sebuah kerangka plastic yang terlihat menguning tergantung dipojokan bersama jas lab dari para siswa. Cukup membuatku merasa grogi juga sebenarnya. Ketika aku memeriksa ruangan 103 yang ternyata juga kosong, aku mendengar suara pria dewasa dari arah sebaliknya; ruangan 104. Aku mengintip dari jendela dan kulihat bahwa diruangan tersebut penuh.
Memang kelas ini penuh namun apa yang kulihat disana sungguh diluar dugaanku sebelumnya. Memang ada seorang guru disana menggunakan setelan berwarna cokelat dan dasi kupu kupu berwarna biru, dan ada juga para siswa yang mengikuti kelasnya, focus mereka terarah pada sang guru. Mereka duduk dibangku y ang kupikir terlihat sangat kuno. Namun bukan hal itu yang membuatku heran, tapi baju yang mereka pakailah yang membuatku merasa demikian. Anak anak jaman sekarang tidak berpakaian dengan model seperti itu lagi. Jika kuingat kembali, keadaan kelas saat itu Nampak seperti di film film lawas. Sang guru berdiri disamping papan tulis yang kotor oleh kapur tulis.
Mengesampingkan kejanggalan ini, aku kemudian mengetuk pintu. Kupikir sekolah itu agak bermasalah dalam hal pembiayaan.
Guru itu tidak menyadari ketukanku, maka dengan perlahan aku membuka pintu dan berjalan masuk. Tidak ada seorang muridpun yang mengalihkan perhatiannya dari sang guru, tidak ada seorang muridpun yang memperhatikanku.
Dengan canggung aku meminta maaf atas keterlambatanku, aku beralasan bahwa sempat tersesat sebelumnya. Kemudian aku berjalan menuju kesatu satunya bangku yang kosong diruangan itu. aku duduk dan merasa pipiku panas terbakar saking malunya. Kupikir aku pastilah telah mengganggu jalannya pelajaran.
Beberapa saat kemudian guru tersebut kembali melanjutkan pelajaran. Tidak ada yang terlalu luar biasa. Namanya adalah Mr Telori. Dia mulai menulis soal di papan tulis dan meminta pada murid muridnya untuk mengerjakannya. Seperti yang kubilang sebelumnya, kelas matematika ini tidak jauh berbeda, kecuali pada satu hal bahwa tidak ada satu kalkulatorpun yang digunakan. Tiap saat aku mengangkat tangan untuk menjawab soal, bahkan sedikit terlalu berlebihan dalam caraku mencari perhatian pak guru, dia selalu mengabaikannya dan memilih siswa lain untuk menjawabnya.
Pelajaran seperti berakhir dengan tergesa gesa dimana aku merasakannya seperti berjam jam. Sesungguhnya aku merasa bosan dan sangat sedih karena merasa diacuhkan. Aku ingin segera pulang dan mengadu.
Ketika aku meninggalkan kelas, aku merasa perutku sangat lapar. Aku melirik jam tanganku dan sangat terkejut ketika melihat bahwa waktu sekolah telah berakhir sepenuhnya. Satu hari hanya untuk kelas matematika saja? Sungguh mengerikan!. Aku berpikir bahwa aku sungguh membenci sekolah itu. aku berjalan pulang dengan gontai, masih terbayang apa yang baru saja kualami seharian. Kupikir semua ini sangat menyebalkan dan janggal, namun aku berusaha menghibur diri bahwa suatu saat kemudian aku pasti akan terbiasa dengan ini semua.
Ketika aku sampai dirumah, ibuku sedang berbicara dengan seseorang ditelepon. Wajahnya Nampak bingung. Dia mendengar aku datang dan terlihat mengerutkan dahi ketika melihatku. Entah kenapa dia terlihat begitu marah dan meminta kepada orang yang ada di telepon untuk menunggu sebentar, dan kemudian dia menuduhku telah bolos sekolah.
Giliran aku yang merasa bingung. Aku berkata padanya bahwa aku berada dikelas seharian. Namun nampaknya pihak sekolah menelepon dang mengatakan bahwa aku tidak ada dikelas seharian dan tidak melihatku lagi sejak terakhir kali aku mengambil jadwal kelas. Aku kemudian mengatakan bahwa aku hadir di kelas Mr telori di ruangan 104 sepanjang hari. Kupikir pastilah aku tidak tertulis di daftar absen karena aku datang terlambat.
Ibuku kemudian berhenti sejenak dan mengatakan pengakuanku kepada pihak sekolah. Ekspresi mukanya Nampak tercekat dan begitu kaget setelah beberapa saat dan kemudian menatapku dengan khawatir.
Dia kemudian menutup telepon dan menceritakan padaku apa yang baru saja dikatakan oleh pihak sekolah.
Nampaknya ruang kelas 104 merupakan bagian dari gedung sekolah yang dikosongkan dan sedah tidak digunakan lagi sejak terjadinya kasus penembakan sekitar 40 tahun yang lalu.
Pihak sekolah menuduh bahwa aku pasti sedang melakukan hal usil dan lelucon gila.
********************
Malam harinya aku melakukan searching di web untuk mencari tahu kebenaran tentang apa yang dikatakan oleh pihak sekolah. Dan kemudian aku mendapatkan sebuah artikel di Koran lama mengenai pembantaian di sekolah tersebut yang ternyata telah diarsipkan.
Seseorang yang gila dan tidak waras berjalan memasuki sekolah dengan membawa senapan berburu dan menembak mati seluruh isi kelas. Dia menutup dan mengunci pintu masuk dan menembak semua orang yang ada di kelas matematika. Sebuah foto menunjukan kelas dimana pembunuhan tersebut terjadi. aku mengenalinya seketika. Kelas itu adalah kelas 104.
Sebuah obituary juga Nampak ditujukan sebagai persembahan kepada semua korban yang tewas. Dan disertakan pula foto foto semua korban. Aku mengenali mereka semua, Mr telori dan semua murid yang sempat bersamaku seharian dikelas matematika.
Jantungku serasa berhenti berdetak. Aku sungguh merasa sangat mual akibat ketegangan atas hal yang membuatku sangat shock. Seketika pula seluruh tulangku serasa membeku, dan bulu kudukku merinding.
Setelah hari itu, aku memilih untuk pindah sekolah.
******
Sekarang, bertahun tahun setelah semua itu terjadi, aku menulisnya, aku menulis apa yang sebenarnya telah terjadi dimana tidak ada seorangpun yang mempercayaiku.
Namun alasannya adalah kenapa baru sekarang aku menulisnya?
Kemarin aku menerima sebuah surat. Tidak ada alamat pengirim. Dan itu adalah sebuah undangan untuk sebuah reuni yang ditandatangani oleh guru lamaku :
Mr. Telori.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pulau Menakutkan Markas Raoul Silva di Film Skyfall Benaran Ada ! Masih ingat dengan pulau menyeramkan yang menjadi markas mantan agen sekaligus hacker Raoul Silva dalam film Skyfall? Pulau itu ternyata benar-benar ada dan terletak di Jepang. Hashima Island atau yang juga dikenal sebagai Gunkanjima (Battleship Island) karena siluetnya yang menyerupai kapal perang, merupakan sebuah pulau seluas 60.000 meter persegi di laut lepas Nagasaki, Jepang.
Pada 1950, pulau itu merupakan rumah bagi ribuan pekerja tambang batu bara dan ditutup pada 1974. Semenjak itu, pulau tersebut telah terbengkalai hingga film agen mata-mata 007 kembali menemukannya.
Pulau itu memang ditinggalkan begitu saja hingga menjadi reruntuhan, bangunan beton kosong, dan fasilitas pertambangan yang menciptakan suasana seram. Bangunan bobrok dan barang-barang yang ditinggalkan para penambang batu bara membuat tempat ini seperti pulau yang paling terpencil di Bumi. Tak mengherankan bila Raoul Silva (diperankan oleh Javier Bardem) mendirikan markasnya dan berperan sebagai peretas mahir di pulau itu.
Selain digunakan sebagai lokasi dalam film, pulau itu sebelumnya pernah menjadi berita utama ketika pada 2008 sebuah organisasi nonprofit mengusulkan agar Pulau Hashima ditetapkan sebagai situs Warisan Dunia UNESCO.
Hashima seluruhnya ditutup untuk umum hingga pada 2009 wisatawan diperbolehkan untuk mengunjunginya. Masalahnya, tidak ada banyak yang bisa dilakukan di sana selain mengagumi reruntuhan suasana menakutkan yang ternyata menjadi daya tarik tersendiri.
Ada yang ganjil pada lukisan potret Presiden Sukarno yang terpasang di galeri di dalam Kompleks Makam Bung Karno. Berbeda dengan lukisan kebanyakan, presiden pertama Indonesia ini seolah "hidup" dengan jantung berdegup.
Berbingkai kayu kelir emas, lukisan berukuran sekitar 1,5x1,75 meter tersebut ditopang penyangga besi sekitar setengah meter dari dinding. Lukisan dipasang dekat pintu masuk Galeri sehingga tampak mencolok bagi pengunjung yang masuk.
Tak ada yang aneh saat melihat lukisan ini dari depan. Keganjilan baru terungkap ketika pengunjung melihat lukisan dari samping. Kanvas di dada kiri Bung Karno bergerak maju-mundur, menciptakan ilusi degup jantung. Menariknya, ritme degup jantung ini sekitar 60-70 detak per menit, mirip manusia normal.
Staf Galeri Bung Karno Friska Fauzi mengatakan, foto Bung Karno yang berdegup menjadi daya tarik tersendiri. Pengunjung kerap berkumpul di samping lukisan sambil menatap dalam-dalam ke arah dada Bung Karno.
Beberapa pengunjung menganggap fenomena ini sebagai bukti kesaktian Sukarno. Namun ada penjelasan ilmiah untuk menjelaskan fenomena ini.
"Kondisi fisik lukisan mendukung terjadinya degupan," ujar Friska saat ditemui, Rabu, 14 Desember 2011.
Ia menjelaskan, pelukis menumpahkan kecerdasannya ke bidang kanvas dengan mengatur komposisi. Dada kiri Bung Karno diletakkan tepat di tengah lukisan sehingga menjadi fokus utama mata yang memandangnya. Dimensi panjang dan lebar bidang lukis juga dibuat persegi panjang sehingga memiliki daerah lentur di bagian tengah tersebut. Dorongan kecil oleh angin membuat bagian tengah lukisan bergerak konstan.
Hal ini juga yang menjelaskan kenapa lukisan tidak dipasang di dinding. Keberadaan benda keras di belakang kanvas menutup akses aliran udara sehingga tak bisa menciptakan efek degup. Demikian pula di bagian depan, tak diberi lapisan kaca supaya permukaan lukisan bisa bersentuhan dengan udara.
Biasanya boneka-boneka cenderung lucu dan menggemaskan namun tidak dengan empat boneka menyeramkan ini. Empat boneka ini dikenal membawa kutukan dan disimpan di museum-museum di Eropa diantaranya:
Robert The doll
Boneka Robert The doll yang sangat mirip dengan boneka beruang Mr.Bean ini ini konon memiliki kisah mistis yang menyeramkan. Awalnya boneka dimiliki oleh pengasuh dari Robert Eugene Otto. Namun karena pengasuhnya ini merasa diperlakukan tidak baik oleh orangtua Eugene. Maka ia membalas dengan memberikan boneka yang diberi nama Robert itu untuk Eugene. Setelah satu bulan mulai ada kejadian-kejadian aneh seperti barang-barang sering hilang dan rusak. Akibatnya sekarang boneka seram itu berada di Historic Custom House dengan baju sailor suit Eugene. Hal yang lebih menyeramkan jika pengunjung menyimpan permen pepermint di depan displaynya namun hanya akan tersisa bungkusnya.
Mandy the Doll
Mereanda pemiliki boneka seram bernama Mandy ini mengaku sering mendengar suara tangisan bayi. Namun ketika diperiksa ternayat jendela boneka terbuka padahal sebelumnya tertutup. Diketahui ternyata boneka Mandy sudah berusia sangat tua sekitar 90 tahun, baju yang dipakai juga sangat kotor, badannya rusak dan kepalanya retak. Akhirnya boneka Mandy the Doll didonasikan ke dalam museum pada tahun 1991. Boneka dipajang di Quesnel Museum di Old Cariboo Gold Rush Trail, British Columbia.
The Devil’s Baby Doll
Mungkin The Devil’s Baby Doll merupakan salah satu boneka yang paling menyeramkan. Boneka yang berukuran mirip bayi berkulit merah dan bola mata berwarna biru terang. Awalnya boneka seram ini dijadikan sebagai temannya yang telah meninggal. Namun anehnya boneka ini dapat bergerak sendiri dan sering terdengar bunyi-bunyi aneh darinya. Boneka ini tampak lucu namun terdapat iblis yang sangat jahat.
Annabele
Boneka Annabele saat ini sudah dikunci di dalam gelas kaca dan disimpan di museum occult. Sama halnya seperti kasus yang terjadi pada tahun 1970 saat seorang ibu membeli boneka Raggedy-Anne sebagai hadiah untuk anaknya. Sifat Annabelle yang sangat jahat ini mengganggu dua orang perawat yang melakukan investigasi paranormal oleh gereja. Seram sekali bila membayangkan boneka yang banyak ditakuti ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar